JAMBI, BUNGO — Pemblokiran jalan menuju Kecamatan Limbur Lubuk Mengkuang, Kabupaten Bungo, yang dilakukan masyarakat Desa Peninjau, Kecamatan Batin II Pelayang, masih berlanjut hingga Sabtu malam, 26 September 2026.
Aksi tersebut telah berlangsung sejak Senin, 21 September 2026. Warga bertahan di lokasi sebagai bentuk keresahan terhadap kondisi Sungai Batang Tebo yang dinilai semakin keruh dan sulit dimanfaatkan sebagai sumber air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Pada Sabtu malam, situasi di lokasi mendapat perhatian dari Polres Bungo. Sejumlah personel kepolisian mendatangi lokasi pemblokiran untuk menemui masyarakat sekaligus mendengarkan secara langsung aspirasi yang disampaikan warga.
Dalam pertemuan tersebut, masyarakat menyampaikan persoalan utama yang mereka hadapi, yakni kondisi Sungai Batang Tebo yang menurut warga mengalami perubahan dan semakin keruh. Kondisi tersebut dikhawatirkan berkaitan dengan aktivitas yang berlangsung di wilayah hulu sungai.
POLISI LAKUKAN OPERASI KE WILAYAH HULU
Sebelum menuju wilayah Kecamatan Limbur Lubuk Mengkuang, pihak kepolisian terlebih dahulu menemui masyarakat. Polisi menyampaikan bahwa akan dilakukan operasi ke wilayah hulu Sungai Batang Tebo dan meminta masyarakat tetap tenang serta tidak melakukan pemblokiran jalan.
Masyarakat kemudian memberikan kesempatan kepada petugas untuk melaksanakan operasi dan mempersilakan aparat menuju wilayah yang dimaksud.
Setelah kembali dari lokasi operasi, pihak kepolisian menyampaikan bahwa pemeriksaan telah dilakukan. Menurut keterangan pihak kepolisian, dalam pemeriksaan tersebut tidak ditemukan alat berat yang diduga melakukan aktivitas di wilayah hulu Sungai Batang Tebo.
Namun, keterangan tersebut belum membuat masyarakat bersedia membuka blokir jalan.
WARGA MINTA BUKTI, BUKAN SEKADAR JANJI
Masyarakat menyampaikan bahwa mereka ingin melihat secara langsung adanya alat-alat berat yang keluar dari wilayah Kecamatan Limbur Lubuk Mengkuang.
Bagi warga, persoalan yang mereka hadapi tidak berhenti pada pelaksanaan operasi. Mereka meminta adanya langkah yang dapat memberikan kepastian bahwa aktivitas yang diduga menjadi penyebab keruhnya Sungai Batang Tebo benar-benar dihentikan.
Karena itu, masyarakat memilih tetap bertahan di lokasi hingga adanya tindakan yang menurut mereka dapat dilihat dan dirasakan secara nyata.
SITUASI SEMPAT MEMANAS
Ketegangan sempat terjadi ketika jumlah masyarakat yang berkumpul semakin bertambah. Warga yang hadir terdiri dari pemuda, perempuan, dan masyarakat lainnya.
Perdebatan antara warga dan pihak kepolisian sempat terjadi. Situasi kemudian mendapat perhatian aparat yang memberikan peringatan agar kerumunan dapat dibubarkan dan kondisi tetap terkendali.
Dalam penyampaian selanjutnya, pihak kepolisian menyatakan akan kembali melakukan operasi apabila kondisi Sungai Batang Tebo kembali keruh.
Polisi juga menyampaikan bahwa penindakan akan dilakukan terhadap aktivitas yang ditemukan di lapangan, termasuk robin, dompeng maupun alat berat, tanpa pandang bulu.
WARGA MENUNGGU LANGKAH KONKRET
Meski kepolisian telah menyampaikan rencana operasi lanjutan, masyarakat tetap meminta adanya tindakan yang dapat dibuktikan secara langsung.
Warga berharap alat-alat berat yang diduga masih beraktivitas di wilayah hulu dapat dipastikan keluar dari kawasan tersebut dan tidak ada lagi aktivitas yang menyebabkan kondisi Sungai Batang Tebo kembali keruh.
Bagi masyarakat, persoalan ini menyangkut kebutuhan dasar, terutama ketersediaan air bersih. Karena itu, mereka meminta penanganan tidak berhenti pada operasi sesaat, tetapi dilakukan secara berkelanjutan dan transparan.
Hingga Sabtu malam, 26 September 2026, pemblokiran jalan masih dipertahankan masyarakat.
Warga berharap persoalan Sungai Batang Tebo segera mendapatkan penyelesaian konkret dari pihak berwenang, sehingga akses jalan dapat kembali normal dan masyarakat memperoleh kepastian atas ketersediaan sumber air yang layak digunakan.
Jambi Crime Watch — Mengawal Fakta, Mengungkap Kebenaran.
